visitbelokpelaga
Tangga batu berlumut menuju Pura Panataran Agung Pucak Mangu, diselimuti kabut dan pepohonan tropis

Budaya

Yang Diwariskan Turun-Temurun

Budaya di Pelaga dan Belok/Sidan hidup lewat cerita yang diwariskan turun-temurun: mitos asal-usul di balik pura-pura suci, upacara yang berulang tiap purnama dan tilem, dan sastra lisan yang belum semuanya tertulis.

Jejak Suci

Menyusuri Jejak Suci Tanah Pelaga

Di Desa Pelaga, kesucian tidak berdiam di satu tempat saja. Ia menyebar, dari puncak gunung yang hanya bisa dicapai dengan napas terengah, turun ke lembah tempat air mengalir dari celah tebing sejak sebelum ada yang mengingatnya, hingga ke dasar air terjun yang kini lebih sering menyapa kamera turis ketimbang doa.

Tim riset budaya unit ini menyusuri empat titik itu, bukan sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai orang-orang yang sempat singgah, bertanya, dan mendengarkan: mitologi kuno yang bersanding dengan tiket masuk, lingga megalitikum yang berbagi ruang dengan foto prewedding, kepercayaan leluhur yang terus dijaga generasi demi generasi meski dunia di sekitarnya berubah begitu cepat.

Pura Puncak Mangu di puncak Gunung Catur diselimuti kabut

Pura Pucak Mangu

Tempat Kekalahan Menjadi Titik Bangkit

Untuk sampai ke pura ini, pengunjung harus mendaki hutan tropis di puncak Gunung Catur (2.096 mdpl) melalui empat pos, dua pos terakhir menuntut kehati-hatian ekstra. Namanya jarang muncul di peta umum Bali, tapi tercatat dalam Lontar Babad Mengwi sebagai tempat leluhur Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, bertapa setelah kalah perang dan ditawan. Dari titik itu ia bangkit, memperoleh kesaktian yang menjadi fondasi Kerajaan Mengwi.

Namun sejarahnya jauh lebih tua dari kisah kerajaan itu: sebuah batu lingga dari zaman Megalitikum ditemukan di halaman utama pura, jauh sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali, situs pra-Hindu yang kemudian dirangkul ke dalam narasi Hindu-Bali, bukan dihapus. Kini Pura Pucak Mangu berstatus salah satu Sad Kahyangan Jagat sekaligus Catur Loka Pala, dan mulai dilirik sebagai destinasi trekking.

Lihat Detail →
Kompleks Pura Luhur Pucak Gegelang dengan meru bertingkat di bawah langit cerah

Pura Luhur Pucak Gegelang

Kutukan yang Menjadi Nama Sebuah Desa

Menurut naskah yang beredar di kalangan warga, Bhatara Ciwa pernah hendak menciptakan gunung di titik ini, sebelum niat itu diurungkan oleh Bhatara Guru. Dari pembatalan itulah lahir nama “Nungnung” (dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “batal”), sekaligus perintah untuk mendirikan pura pemujaan Wisnu-Brahma di tempat yang sama.

Seperti Pucak Mangu, pura ini juga diyakini peninggalan Megalitikum dan berstatus Kahyangan Jagat, diempon oleh empat desa adat sekaligus. April 2023, rangkaian Karya Ngenteg Linggih dan Mapadudusan Agung yang sempat berhenti sekitar 50 tahun akhirnya dihidupkan kembali, dipuput tiga sulinggih dari tiga griya berbeda.

Kompleks Pura Penataran Agung Bukian dengan atap ijuk bertingkat dikelilingi hutan lebat

Pura Penataran Agung Bukian

Air yang Lebih Tua dari Puranya

Di lembah sekitar 25 km dari pusat Kota Mangupura, kompleks ini menyatukan Pura Penataran Agung sebagai pura induk dan Petirtaan Ciwa Gangga di sisi timurnya. Warga percaya mata air di sana sudah mengalir sebelum puranya berdiri, konon dibentuk oleh cakar Kebo Iwo, tokoh legendaris dari Bedahulu, mengalir lewat sebelas titik air.

Ada satu pantangan yang tak seorang pun berani melanggarnya: anak-anak lingsir dan istri dilarang memasuki areal petirtaan, hanya sekar teruna dan tukang banten yang diperbolehkan. Pemangku pura sendiri mengalami sakit keras delapan bulan sebelum “dipanggil” meneruskan tugas ayahnya di sana. Kini, tempat ini juga terbuka sebagai lokasi melukat bagi siapa pun, termasuk yang bukan beragama Hindu, di area luar kawasan suci.

Air Terjun Nungnung yang mengalir deras di antara tebing hijau Pelaga

Air Terjun Nungnung

Pertemuan yang Sakral dan yang Ramai

Berbeda dari tiga titik sebelumnya, Air Terjun Nungnung kini jauh lebih riuh oleh suara pengunjung ketimbang mantra. Untuk mencapai dasarnya, pengunjung menuruni 480 anak tangga (10-15 menit bagi turis asing, 15-20 menit bagi turis lokal), dan pada pagi hari, air terjun ini kerap menampilkan pelangi kecil, detail yang tak tercatat di brosur mana pun tapi diwariskan dari mulut ke mulut warga sekitar.

Tempat yang dulu punya pura dan odalan sendiri ini kini fungsi spiritualnya nyaris sepenuhnya digantikan fungsi rekreasi, didominasi wisatawan asing, terutama dari Spanyol dan Rusia. Di baliknya ada ketegangan ekonomi lokal: harga tiket yang belum naik membuat pemandu wisata tak kebagian bagi hasil, sesuatu yang menurut penjaga loket ikut menekan jumlah kunjungan.

Lihat Detail →

Yang sakral dan yang duniawi di Pelaga tidak pernah benar-benar terpisah. Di Pucak Mangu, lingga megalitikum berbagi puncak gunung dengan pendaki. Di Pucak Gegelang, ritual besar yang sempat berhenti setengah abad kembali dihidupkan. Di Bukian, pantangan lama tentang siapa yang boleh menyentuh mata air suci masih dijaga ketat. Di Nungnung, fungsi spiritual nyaris sepenuhnya digantikan fungsi rekreasi. Pelaga adalah desa yang terus bernegosiasi dengan waktunya sendiri: menjaga apa yang perlu dijaga, membuka diri pada apa yang perlu dibuka.

Unduh Dokumen Lengkap
Video Etnografi

Napas Tradisi Bali

Video etnografi ini menampilkan kekayaan budaya Bali melalui pelaksanaan upacara Tilem dan Purnama di Desa Adat Bukian.

Kedua upacara ini merupakan bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali, yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana). Melalui dokumentasi visual dan wawancara dengan masyarakat setempat, video ini memperlihatkan makna, proses, serta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap rangkaian upacara.

Tidak hanya sebagai tradisi, video ini merekam identitas budaya yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi warga Desa Adat Bukian.

Video Etnografi

Sidan Strolling

Video ini menampilkan tradisi-tradisi lokal meliputi kebudayaan serta ritual yang bersifat spiritual di Desa Adat Sidan melalui tradisi Sangkep, Ngiring Sesuhunan, dan Purnama.

Ketiga kegiatan ini memperlihatkan relasi yang kuat antarmasyarakat dan ikatan hubungan mereka dengan alam serta Tuhannya. Melalui dokumentasi singkat dan wawancara dengan masyarakat, video ini memperlihatkan bagaimana proses kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan dan apa makna dari kegiatan-kegiatan tersebut.

Harapannya, dengan dibuatnya video ini, tradisi-tradisi lokal di Desa Adat Sidan dapat diakses dan turut dilestarikan antargenerasi.

Video Etnografi

Mengenal Barong: Simbol Kemakmuran bagi Masyarakat Desa Sidan

Barong dalam kebudayaan Bali dikenal sebagai simbol kekuatan kebaikan yang menjaga keseimbangan antara unsur baik dan buruk. Namun, lebih dari itu, keberadaan Barong juga mencerminkan kondisi sosial masyarakat pendukungnya, terutama dalam aspek kemakmuran kolektif. Menurut warga setempat, Barong dalam kebudayaan Bali tidak hanya dimaknai sebagai simbol religius. “Kalau Barong itu kan lambang kemakmuran,” ungkap salah satu warga desa adat Sidan saat wawancara (11/07/2026). Ungkapan tersebut menghadirkan cara pandang baru terhadap Barong, bahwa di luar aspek kesenian dan spiritual, Barong sudah menjadi bagian yang terikat bersama warga Sidan dalam kehidupan bermasyarakat, dekat dan terasa.

Di desa adat Sidan ini, cerita dan pemahaman tentang Barong tidak bermula dan berputar di panggung kesenian, melainkan dari bagian-bagian terdekat, seperti sawah. “Biar tanaman itu kalau dilewatin, tanaman-tanamannya jadi sempurna,” ungkapnya lagi. Masyarakat desa adat Sidan mempercayai Barong sebagai perantara manusia dan juga alam. Melalui ungkapan tersebut, kita dapat mengerti bahwa Barong juga menjadi simbol harapan bagi masyarakat untuk keberlangsungan hidup yang tenang dan makmur. Namun, meskipun Barong sudah lekat identitasnya terhadap masyarakat Bali, tidak semua desa memiliki Barong. “Tapi jarang orang di sini (di luar desa adat Sidan) punya Barong. Jarang di pedesaan,” ucapnya. Kelangkaan inilah yang membuat kedua sisi istimewa: (1) Barong bukanlah properti yang dimiliki oleh individu, melainkan milik bersama suatu komunitas, seperti desa; dan (2) tidak semua desa memiliki Barong dalam bentuk fisik.

Barong, selain sebagai simbol yang memakmurkan kehidupan, juga dipercaya sebagai harapan baik pada saat-saat genting dan dipercaya pula sebagai penangkal bala, seperti penyakit. Dalam wawancara yang dilakukan bersama salah satu warga, beliau mengungkapkan bahwa biasanya Barong dikeluarkan ketika banyak orang yang meninggal di sebuah tempat, sebagai keyakinan masyarakat terhadap hal-hal baik yang akan datang di hari yang akan datang. “Rambutnya (Barong) itu dikasih… minum airnya… dipakai (menjadi) gelang (rambut Barongnya),” lanjutnya lagi ketika menjelaskan bahwa Barong juga diyakini sebagai penawar sakit dan menjadi bagian dari ritual penyembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Barong tidak hanya folklor semata atau simbol yang tampak di ruang publik, tetapi juga dekat dengan kehidupan pribadi, seperti menyembuhkan orang-orang sakit.

Tidak berhenti sebagai simbol harapan bagi kehidupan masyarakat dan individu, Barong tentu saja muncul pula ketika tradisi-tradisi lokal diselenggarakan. Yang menjadikannya unik, munculnya Barong ini berbeda-beda tempat dan kegiatannya, mengikuti di mana Barong tersebut dipraktikkan. Di desa adat Sidan ini, Barong biasa dikeluarkan salah satunya adalah saat Buda Kliwon. “Khusus di sini saja,” tegas warga tersebut. Selain Buda Kliwon, sebelumnya pada acara Ngiring Sesuhunan, Barong juga turut hadir sebagai simbol yang dijunjung dan diiring bersama para warga mengitari pura di desa. Namun, kembali lagi pada ketentuan antartempat, Barong bisa saja digunakan pada upacara adat lain atau tradisi lain-lainnya sesuai kebiasaan masyarakat. Variasi praktik Barong dalam tradisi Bali ini menunjukkan bahwa budaya mungkin tidak sepenuhnya dapat berjalan seragam, tetapi sejatinya budaya merupakan hal yang hidup, tumbuh, dan adaptif bersama masyarakat.

Rasakan Langsung di Pelaga dan Belok/Sidan

Lihat kalender hari suci dan perayaan sepanjang tahun di Panduan, jelajahi destinasi budaya di kawasan ini, atau baca pengetahuan petani jeruk di balik kebun-kebun agrowisatanya.